Cari Blog Ini

Rabu, 27 Juni 2018

Pakaian Adat Karo

Uis Gara atau Uis Adat Karo adalah pakaian adat yang digunakan dalam kegiatan adat dan budaya Suku Karo dari Sumatera Utara. Selain digunakan sebagai pakaian
resmi dalam kegiatan adat dan budaya, pakaian ini sebelumnya digunakan pula dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional Karo.

Kata Uis Gara sendiri berasal dari Bahasa Karo , yaitu Uis yang berarti kain dan Gara yang berarti merah. Disebut sebagai "kain merah" karena pada Uis Gara warna yang dominan adalah merah, hitam, dan putih, serta dihiasi pula berbagai ragam tenunan 
dari benang emas dan perak.

Secara umum Uis Gara terbuat dari bahan kapas yang kemudian dipintal dan ditenun secara manual dan diwarnai menggunakan zat pewarna alami. Cara pembuatannya tidak jauh berbeda dengan pembuatan songket, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Fungsi dan Kegunaan
Pada awalnya kegunaan Uis Gara, yaitu dibuat untuk dipakai sehari-hari oleh kalangan perempuan Karo. Namun saat ini Uis Gara hanya digunakan di setiap upacara adat dan budaya Karo. Baik yang dilaksanakan di
daerah Karo sendiri, maupun di luar daerah Karo, selebihnya kerap juga ditemukan dalam bentuk suvenir berupa tas, dasi, gorden, ikat pinggang, sarung bantal, dan lain sebagainya.


 Pakaian tradisional Karo tentunya merupakan salah satu hasil dari kebudayaan Karo, oleh karena itu, seiring berkembangnya kebudayaan, masyarakat Karo telah memiliki banyak ragam pakaian dengan fungsi-fungsi yang berbeda. Secara tradisional pakaian ini di tenun oleh para wanita Karo dengan menggunakan kembaya (semacam kapas) yang dijadikan benang dan dicelup dengan alat pewarna yang dibuat dari bahan kapur, abu dapur, kunyit, dan telep (sejenis tumbuhan).

Secara umum pakaian tradisional Karo dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu: pakaian sehari hari, pakaian untuk pesta, dan pakaian kebesaran. Pakaian yang biasa digunakan pria adalah pakaian dengan model batu gunting cina lengan panjang, tutup kepala yang disebut tengkuluk atau bulang dan sarung, sedangkan untuk wanita terdiri dari baju kebaya leher bulat, sarung (abit), tutup kepala (tudung), dan kain adat bernama Uis Gara yang diselempangkan.
Pakaian pesta hampir sama dengan pakaian sehari-hari. Hanya saja, pakaian pesta lebih bersih atau baru dan dikenakan dengan baik, sehingga terlihat lebih sopan, dan pakaian kebesaran terdiri dari pakaian dengan aksesoris-aksesoris yang lengkap serta digunakan pada saat pesta saja, seperti pesta perkawinan, memasuki rumah baru, upacara kematian, dan pesta kesenian.


1• Uis Arinteneng
Uis Arinteneng terbuat dari kapas atau kembayat yang ditenun. Warnanya hitam pekat hasil pencelupan yang disebut ipelabuhken. Pakaian ini digunakan untuk alas pinggan pasu tempat emas kawin dan tempat makanan bagi pengantin sewaktu acara mukul (acara makan bersama) pada malam hari setelah selesai pesta adat, uis ini juga digunakan sebagai pembalut tiang pada peresmian atau acara adat memasuki rumah baru, dan membayar hutang adat kepada kalimbubu dalam upacara adat kematian. 

Penggunaan :
- Alas pinggan pasu yang dipakai pada waktu penyerahan mas kimpoi.
- Alas piring makan pengantin saat makan bersama dalam satu piring pada malam hari usai pesta peradatan (man nakan persadan tendi/mukul).

2• Uis Julu

Bahannya sama dengan bahan Uis Arinteneng. Warnanya hitam dengan corak garis-garis putih berbentuk liris-liris. Keteng-keteng-nya berwarna merah dan hitam dan disebut Keteng-ketang Bujur. Ada juga yang disebut keteng-keteng sirat denan diberi ragam corak ukiran serta di sisi ujungnnya terdapat rambut (jumbai). Pakaian ini diguanakan sebagai Gonje (sarung laki-laki), membayar hutang adat (maneh-maneh), nambari (mengganti) pakaian orang tua laki-laki, dan digunakan juga sebagai selimut (cabin).
Untuk pakaian wanita bagian bawah (sebagai sarung) untuk upacara adat yang diharuskan berpakaian adat lengkap.

3• Uis Teba

Hampir sama dengan Uis Julu. Perbedaannya ialah garis-garis Uis Teba lebih jarang sedangkan Uis Julu lebih rapat. Warnanya hitam, di sisi ujungnya juga memiliki rambut (jumbai). Sama seperti uis Julu ,Uis ini juga digunakan untuk maneh-maneh atau membayar hutang adat bagi perempuan yang meninggal, tudung bagi perempuan, mengganti pakaian orang tua (bagi ibu), dan alas pinggan pasu
Universitas Sumatera Utara
tempat emas kawin sewaktu melaksanakan pembayaran kepada pihak mempelai perempuan dalam upacara adat Perkawinan.
Penggunaan :
- Kain ini dipakai wanita Karo lanjut usia sebagai tutup kepala (tudung) dalam upacara yang bersifat duka cita.
- Pada beberapa daerah, kain ini dijadikan sebagai tanda rasa hormat kepada Kalimbubu (Maneh-maneh) pada saat orang yang sudah lanjut usia meninggal.

4• Uis Gatip

Uis Gatip ini berwarna hitam dan berbintik-bintik putih di tengah, tepian kain warnanya hitam pekat dan ujungnya terjalin dan berumbai. Jenis kainnya lebih tebal sehingga sering disebut dengan Uis kapal (kain tebal). Uis ini dipakai sebagai ose (pakaian) laki-laki pada upacara-upacara adat perkawinan, memasuki rumah baru, guro-guro aron (pesta muda-mudi) dsb.
Penggunaan :
- Sebagai Penutup Kepala wanita Karo (tudung) baik pada pesta maupun dalam kesehariannya.
- Untuk beberapa daerah, diberikan sebagai tanda kehormatan kepada kalimbubu pada saat wanita Karo meninggal Dunia (Maneh-maneh dan morah-morah).

5• Uis Jongkit

Warna dan bahan Uis ini sama dengan Uis Gatip, hanya saja Uis Jongkit memakai benang emas dengan motif melintang pada bagian tengah kain tersebut, hingga warna dan bentuknya lebih cerah. Penggunaan Uis ini juga sama seperti Uis Gatip, tapi kain ini sekarang lebih disenangi dan banyak dipakai pada upacara-upacara adat.

Uis Gatip Jongkit menunjukkan karakter kuat dan perkasa.
Penggunaan :
Sebagai pakaian luar bagian bawah untuk Laki-laki yang disebut gonje(sebagai kain sarung). Kain ini dipakai oleh Putra Karo untuk semua upacara Adat yang mengharuskan berpakaian Adat Lengkap.

6• Uis Beka Buluh

Warna dasar kain Uis Beka Buluh ini merah cerah, bagian tengah bergaris Kuning, Ungu, Putih dan pada tepian dan ujung kain terdapat motif-motif ukiran Karo yang dibuat dengan benang emas. Kain ini dipakai sebagai Bulang (penutup kepala/topi) pada laki-laki, dan juga dipakai sebagai cekok-cekok (penghias bahu) yang diletakan sedemikian rupa pada bahu laki-laki, selain itu kain ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita. 
Penggunaan :
- Sebagai Penutup Kepala. Pada saat Pesta Adat, Kain ini dipakai Pria/putra Karo sebagai mahkota di kepalanya
pertanda bahwa untuk dialah pesta tersebut diselenggarakan. Kain ini dilipat dan dibentuk menjadi Mahkota pada saat Pesta Perkimpoian, Mengket Rumah (Peresmian Bangunan), dan Cawir Metua (Upacara Kematian bagi Orang Tua yang meninggal dalam keadaan umur sudah lanjut). 
- Sebagai Pertanda (Cengkok-cengkok/Tanda-tanda) yang diletakkan di pundak sampai ke bahu dengan bentuk lipatan segi tiga.
- Sebagai Maneh-maneh. Setiap putra karo dimasa mudanya diberkati oleh Kalimbubu (Paman, Saudara Laki-laki dari Ibu, Pihak yang dihormati) sehingga
berhasil dalam hidupnya. Pada Saat kematiannya, pihak keluarga akan membayar berkat yang diterima tersebut
dengan menyerahkan tanda syukur yang paling berharga kepada pihak kalimbubu tadi yakni mahkota yang biasa dikenakannya yaitu Uis Beka Buluh.

7• Uis Kelam-Kelam

Warnanya hitam pekat, bahan kainnya lebih tipis dari Uis yang lain dan polos tanpa motif, sepintas seperti kain hitam biasa, hanya saja kain ini lebih keras
dibanding Uis yang lain. Uis ini biasa dipakai oleh wanita sebagai tudung pada upacara-upacara adat, tudung yang bahannya dari uis kelam-kelam ini disebut Tudung Teger Limpek dengan bentuknya yang khas dan unik. Memang proses pembuatan tudung ini sangat sulit dan unik, hingga saat ini tidak semua orang dapat membuat tudung ini.
Penggunaan :
- Penutup kepala wanita Karo (tudung teger) waktu pesta adat dan pesta guro-guro aron.
- Kain ini juga digunakan sebagai tanda penghormatan kepada puang kalimbubu pada saat wanita lanjut usia meninggal dunia (morah-morah).

8• Uis Jujung-jujungen

Warnanya merah bersulamkan emas dan kedua ujungnya juga berumbai benang emas, kain ini tidak selebar kain yang lainnya, bentuknya hampir sama dengan selendang. Uis ini biasanya dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya diatas tudung dengan rumbainya terletak disebelah depan. Pada saat sekarang uis ini jarang digunakan, dan kebanyakan telah digantikan dengan uis Beka buluh.
Kain ini dipakai hanya untuk lapisan paling luar penutup kepala wanita 
(tutup tudung) dengan umbai-umbai emas pada bahagian depannya.

9• Uis Nipes Ragi Barat

Kain ini jenisnya lebih tipis dari kain-kain lainnya dan memiliki bermacam-macam motif dan warna (merah, coklat, hijau, ungu dan sebagainya), uis ini biasa digunakan sebagai selendang bagi wanita.

Selain beberapa jenis Uis yang telah dijelaskan secara singkat di atas, masih terdapat beberapa jenis Uis yang lain, diantaranya :Uis Batu Jala, Uis Gobar Dibata, Uis Pengalkal, dan lain-lain
- Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat sukacita maupun dalam keseharian.
- Lapisan luar pakaian wanita bagian bawah (sebagai kain sarung) untuk kegiatan pesta sukacita yang diharuskan berpakaian adat lengkap.

10• Uis Nipes Padang Rusak

Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada pesta maupun dalam sehari-hari
Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada pesta maupun dalam sehari-hari.

11• Uis Nipes Benang Iring

Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat duka cita.
Kain ini dipakai wanita Karo sebagai selendang bahu dalam upacara adat duka cita.

12• Perembah

Untuk menggendong bayi .
Penggunaan :
- Untuk menggendong bayi.
- Untuk anak pertama, perembah diberikan oleh Kalimbubu seiring doa 
dan berkat agar anak tersebut sehat-sehat, cepat besar dan menjadi orang sukses dalam hidupnya kelak. 

13• Uis Pementing


Kain ini dipakai Pria Karo sebagai ikat pinggang (benting) pada saat berpakaian Adat lengkap dengan menggunakan Uis Julu sebagai kain sarung. 
Kain ini dipakai Pria Karo sebagai ikat pinggang (benting) pada saat berpakaian Adat lengkap dengan menggunakan Uis Julu sebagai kain sarung.

ASAL KALAK KARO

wiropranata84@gmail.com
Mejuah-juah Kita Kerina

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({ google_ad_client: "ca-pub-7923521293139793", enable_page_level_ads: true Mari Kita Telusuri secara singkat. Para Tetua-tetua Suku Karo mengatakan bahwa asal muasal kata karo berasal dari Haru.Apa itu Haru?Haru adalah Kerajaan Terbesar di Pulau Sumatera yang mana pusat kerajaannya berada di Sumatera Utara dan sebuah Kerajaan yang ditakuti & disegani & tidak bisa ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit ( kerajaan yang berpusat di jawadwipa/pulau jawa yang Patihnya adalah Gajah Mada dengan Sumpah Palapa yaitu tidak akan memakan buah Palapa sebelum menyatukan Nusantara). Kerajaan Haru satu bagian berada di daratan Karo (lingkupnya berada di kota binjei(bahasa karonya ben jee), Kab. Langkat (bahasa karonya La iangkat, sebuah kerajaan yang legalitasnya tidak resmi dan tidak diakui oleh kesultanan deli), Kab.Deli Serdang, Kab.Serdang Bedagai, Kota Medan, Kab.Karo, Kab. Pak-pak Bharat, Kab.Dairi, Kab.Simalungun) dan satu bagian berada di daratan Aceh (orang karo sebut Atjih atau istilah indonesianya bersin).Berdasarkan penelitian arkeologi yang berasal dari India dan dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya sebenarnya adalah bagian dari Haru/Karo yang prasastinya berada di kab.karo).

Berdasarkan keturunan raja dan bangsawan kerajaan siak lingga yang mana lokasi kerajaannya berada di kepuluan riau yang berbatasan dekat negara Singapura (dulu namanya temasek yang merupakan tanah kerajaan yang dibentuk oleh dari garis keturunan Sriwijaya) adalah merupakan bagian dari kerajaan haru yang mana rajanya merupakan dari garis keturunan Raja/Sibayak Lingga (klan karo-karo si 4 kuru)

Berdasarkan DNA (ilmu genetika yang keabsahannya diakui oleh PBB) Suku Karo sudah mendiami Pulau Sumatera sejak 8.300 tahun lampau dan jauh sebelum Raja-raja Batak datang ke Pulau Sumatera dari sabang sampai lampung (berdasarkan genetika DNA ini mengartikan Suku Karo bukan suku batak dan bukan juga sub suku batak). Ingin Tahu detailnya?

Mari kita telusuri tentang Kerajaan Haru & Bagaimana Kerajaan Haru itu sebenarnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Sebuah kerajaan yang pernah bangkit menjadi kerajaan besar, tetapi terlupakan di dalam Sejarah Negara Indonesia (NKRI) adalah Kerajaan Haru/Aru, yang berpusat di Sumatera Utara. Sementara berbagai sumber tulisan dari Eropa, Cina, Aceh, Melayu, dan lainnya menyebutkan tentang keberadaan kerajaan ini.
1.   Masa Kerajaan Haru Berdiri
Kerajaan Haru muncul dalam kronik Cina pada masa Dinasti Yuan, yang menyebutkan Kubilai Khan menuntut tunduknya Haru kepada Cina pada tahun 1282, yang ditanggapi dengan pengiriman upeti dari Haru pada tahun 1295 . Kerajaan Haru telah eksis pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman pemerintahan Kubilai Khan.
Kerajaan Haru merupakan sebuah kerajaan yang disebutkan di dalam kitab Negara Kertagama dan Pararaton (1336). Dalam pupuh ke-13 bait ke-1 dari Negara Kertagama (1365) diuraikan bahwa Haru berada di bawah kekuasaan Majapahit. Munculnya utusan-utusan dari Kerajaan Haru di istana Kaisar Cina dan kunjungan Laksamana Cheng Ho sebagaimana ditulis oleh Ma Huan di dalam laporannya pada tahun 1416 dan 1436 membuktikan keberadaan kerajaan Haru. Pada abad ke-15, Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa "Su-lu-tang Husin", penguasa Haru, mengirimkan upeti kepada Cina tahun 1411. Sumber dari Eropah seperti Tome Pires (1512-1515), Mendez Pinto (1539) dan Duarte Borbosa (1513-1515) ada juga melaporkan kerajaan Haru ini. Masih ada lagi sumber dari Aceh dan Melayu tentang Haru.

Dalam laporan Tome Pires, yaitu Suma Oriental, disebutkan bahwa kerajaan Haru merupakan kerajaan yang kuat, Penguasa Terbesar di Sumatera, yang memiliki wilayah kekuasaan luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal-kapal asing. Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Haru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu. Dalam Sulalatus Salatin, Haru disebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan Malaka dan Pasai.

Gambaran daerah kekuasaan Kerajaan Haru ini ditemukan juga dalam: Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, pada pertengahan abad ke-13.Sebagaimana dijelaskan dalam Sejarah Melayu bab ke-13 bahwa Kerajaan Haru telah menjadi kerajaan besar setaraf dengan Malaka dan Pasai pada abad ke-15. Pada periode tersebut, Haru menjadi kerajaan besar di Sumatera dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka sebelum kedatangan Portugis. Oleh karena itu, dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dijelaskan bahwa Haru sempat berkali-kali menduduki Pasai dan menyerang Malaka.Pada abad ke-16 Haru merupakan salah satu kekuatan penting di Selat Malaka, selain Pasai. Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugal dengan bantuan Haru menyerbu Pasai pada tahun 1526. Catatan Portugis menyebutkan dua serangan Aceh pada tahun 1539 dan 1564 sempat mengalahkan Haru, tetapi kemudian Aceh dapat dikalahkan dengan bantuan Johor seperti dicatat dalam Hikayat Aceh dan sumber-sumber Eropa. Kemerdekaan Haru baru berakhir pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam surat Iskandar Muda kepada Best (1613) dikatakan, bahwa Raja Haru telah ditangkap. Haru kemudian mendapatkan kemerdekaannya dari Aceh pada tahun 1669 dengan nama Kesultanan Deli. Hingga terjadi sebuah pertentangan dalam pergantian kekuasaan menyebabkan pecahnya Deli dan dibentuklah Kesultanan Serdang pada tahun 1723.

2.    Kerajaan Haru Setelah Runtuh

Kerajaan Haru berpusat di kota Rentang sebelumnya, tapi dengan adanya serangan Aceh kemudian pusat kerajaan berpindah ke Deli Tua yang memiliki benteng pertahanan. Perihal benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya “Het Lanschap Deli op Sumatra” (1866-1867) maupun laporan John Anderson pada tahun 1823 bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan. Benteng Putri Hijau ini terdapat di Namu Rambe dan berdasarkan survei yang dilakukan John Miksic (1979) luasnya adalah 150x60 m2 atau 360 Ha. Letaknya persis diantarai dua lembah yang di sebelah baratnya mengalir Lau Petani/Sungai Deli.Mendez Pinto (1539) menceritakan tentang ibukota Haru serta kubu, benteng, sebuah meriam besar dan istana di dalam benteng. Kemudian hari ditemukan sebuah meriam bertulisan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan laporan Pinto bahwa Haru memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah kemudian disebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus-menerus hingga terbagi dua.

 Setelah diserang oleh Aceh di masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar (1537-1571) pada 1564, maka tidak lagi ada berita tentang Haru. Serangan Aceh kedua ini adalah serangan terhebat hingga kerajaan Haru hancur dan hanya menyisakan benteng hingga kini. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) bahwa peperangan yang terjadi pada masa Sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat peperangan pada masa Sultan Al-Kahar.Selanjutnya Haru dikuasai Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan sebagai wali negeri Aceh di Haru, yakni kesultanan Deli. Panglima Gocah Pahlawan (asal India) dari Kerajaan Aceh kemudian menjadi Sultan Kerajaan Deli pertama yang berkuasa pada 1632-1653. Sementara itu, walaupun mengalami serangan hebat, menurut Zainal Arifin dalam buku “Subuh Kelabu di Bukit Kubu” (2002), diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Haru itu tidak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang - Hamparan Perak, Deli Serdang dan mendirikan kerajaan baru dengan rajanya bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah kemudian melahirkan Kerajaan Langkat dan keturunan terakhir dari Kerajaan Langkat ini adalah Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang tewas dalam revolusi berdarah pada tahun 1946.Sebagai catatan akhir, bahwa belum ada mufakat mengenai siapa Kerajaan Haru itu. Masyarakat Karo, misalnya, menyebutkan bahwa Karo berasal dari kata “Haru”. Karena itu, masyarakat Haru merupakan masyarakat Karo yang didirikan oleh klan Kembaren. Dalam “Pustaka Kembaren” (1927), marga Kembaren disebut berasal dari Pagaruyung di Tanah Minangkabau. Akan tetapi, ada indikasi bahwa penduduk asli Haru berasal dari suku Karo, seperti nama-nama pembesar Haru dalam Sulalatus Salatin yang mengandung nama dan marga Karo. Haru memakai adat Melayu, dan pembesarnya ada menggunakan gelar-gelar Melayu seperti "Raja Pahlawan" dan "Sri Indera". Namun adopsi terhadap adat Melayu ini mungkin tidak sepenuhnya, dan unsur-unsur adat Karo masih ada.Berkaitan dengan penguasa Haru, tidak dapat dipisahkan dengan peran lembaga Raja Berempat, yang menurut Peret (2010) telah ada sebelum pengaruh Aceh. Raja Urung di pesisir ini meliputi Urung Sunggal. Urung XII Kuta, Urung Sukapiring dan Urung Senembah, yang masing-masing berkaitan dengan Raja Urung di dataran tinggi (Karo), yakni Urung Telu Kuru (merga Karo-Karo), Urung XII Kuta (merga Karo-Karo), Urung Sukapiring (merga Karo-Karo) dan Urung VII Kuta (merga Barus). Dalam kesempatan berikut, Raja Berempat ini berperan dalam penentuan calon pengganti Sultan di Deli/Serdang, dengan menempakan Datuk Sunggal sebagai Ulun Janji.


note: 1.raja berempat itu adalah: Sibayak Lingga(merga Sinulingga/klan karo-karo si 4 kuru yaitu: Sinulingga, Surbakti, Kacaribu & Kaban), Sibayak Suka (merga ginting/klan siwah sada ginting), Sibayak Sarinembah & Sibayak Juhar. Raja Berempat dikomandani/raja diraja oleh Sibayak Lingga (klan karo-karo si 4 kuru). 2. sejarah detail kerajaan haru ada di suku karo (diraja berempat), 3. Melayu adalah sub marga dari marga perangin-angin di suku karo) jadi bangsa Melayu sebenarnya merupakan bagian dari Suku Karo.

Prinsip Hidup Orang Karo

Prinsip hidup atau ‘way of life’ orang Karo bisa dilihat dari peribahasa mereka:

1. Bagi buluh belin sada ndapuren (Kekuatan bersama dan Persatuan)

2. Buluh belin nungkirken ku benana (Tidak pernah lupa akan asal usulnya, kalak Karo)

3. Sumpah kalak perburu ‘Mela Mulih Adi La Rulih” (Misi)

4. Siksik lebe maka tindes (Kecerdikan dalam mengambil Tindakan)

Karakter Orang Karo

KARO = Kuat, Akal, Rajin dan Optimis

Artinya orang Karo merupakan gabungan antara Kekuatan (Fisik), Akal (Pikiran), Rajin (Perilaku) dan Optimis (Mental).




Populasi

Populasi orang Karo di Indonesia sekarang ini diperkirakan 1,5 Juta (perkiraan kasar). Orang Karo merupakan salah satu suku besar dari Pulau Sumatera, diantaranya: Batak, Minang, Jawa, Melayu (Medan, Riau, Jambi dan Palembang), Keturunan Cina, Aceh, dan Karo. 




Dengan asumsi Populasi orang Indonesia 250 Juta maka populasi orang Karo 0.6% dari populasi Indonesia. Tiap 1000 orang Indonesia ada 6 orang orang Karo.




Peranan Orang Karo

Orang Karo biarpun jumlahnya hanya sedikit dan hanya masuk urutan terakhir dari ‘20 Suku Terbesar Indonesia’ tapi mereka selalu mersaa peranannya masih sangat kurang untuk Bangsanya Indonesia.




Orang Karo telah menyumbangkan banyak hal untuk Negara Republik Indonesia.

1. Darah para pejuang yang telah membasahi Bumi Pertiwi, mereka ada di Makam Pahlawan Kabanjahe, Taman Makam Pahlawan Medan dan lainnya (Kapten Pala Bangun, Kapten Bangsi Sembiring, Lettu Rata Peranginangin, Mumah Purba, Upah Tendi Sebayang, Kapiten Purba dan lainnya)

2. Perang Kemerdekaan Indonesia paling hebat diantaranya: Perang Sunggal (Karo), Perang Bubutan (Bali, I Gusti Ngurah Rai diangkat jadi Pahlawan Nasional), Perang Patimura (Ambon, Kapiten Patimura telah diangkat jadi Pahlawan Nasional) dan lainnya. Tapi tetap saja Datuk Sunggal Surbakti belum diangkat jadi Pahlawan Nasional Indonesia malahan seorang ‘pahlawan’ bisa menjadi Pahlawan di Republik ini, hal itu oleh karena..tapi katanya, Bangsa yang besar menghargai jasa para Pahlawanya.?

3. Tingkat Sarjana paling tinggi di Indonesia (Peranginangin, 1990an), disamping Bali disusul Minang, Batak dan Keturunan Cina

4. Tiga puluh (30) Jenderal Indonesia adalah anak Karo (Lihat daftar)

5. Seratus (100) Professor Indonesia adalah anak Karo (Pembicaraan saya dengan Berita Ginting, Tokoh Karo, Jakarta) dan ratusan Doktor (Ph.D) Indonesia adalah anak Karo

6. Banyak Pakar Matematika Indonesia adalah anak Karo (Prof. Sembiring, Guru Besar Matematika ITB, Guru – Guru Besar USU, Unimed dan lainnya)

7. Banyak Pakar Teknik Indonesia anak Karo (Prof. Sinisuka, Victor Ginting, Ph.d, Dosen di Universitas Top Amerika Serikat, Guru – Guru besar USU dan Unimed dan lainnya)

8. Anak Karo pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Matematika Yunani biarpun sekarang kalah sama Cina Keturunan, anak Bali dan anak Jawa (tidak ada peningkatan padahal Matematika adalah kurikulum wajib sekolah negeri bagi orang Karo)

9. Banyak Pakar Pertanian Indonesia anak Karo (Prof. Naik Sinukaban, Prof. Meneth Ginting dan Guru – Guru besar USU dan lainnya)

10. Banyak Akuntan Top Indonesia anak Karo

11. Banyak Jaksa Indonesia (Kepala Kejaksaan Negeri dan lainnya) dan beberapa Hakim Agung Indonesia adalah anak Karo tapi sedikit jadi Pengacara (syukur deh..)

12. Kedokteran juga banyak disukai (dr. Sentosa Karo – Karo, dr. Jaman Kaban dan lainnya)

13. Ekonomi Pembangunan, Geograpi, Sejarah, Psikologi dan Bahasa termasuk kurikulum sekolah swasta tapi hasilnya malah bisa lebih memuaskan dari kurikulum wajibnya sekolah negeri (Prof. Masri Singarimbun, Juara R. Ginting, Ph.D, Loreta Karo Sekali, Prof. Henry Guntur Tarigan dan lainnya)

14. Letjend Djamin Ginting, pendiri Gakari cikal bakal Golkar

15. Mayor Selamat Ginting, Tokoh Penting PNI Marhaen (Teman dekat Presiden Sukarno)

16. Simpang Ginting, Tokoh Penting PNI Marhaen (Teman dekat Presiden Sukarno)

17. Thomas Sinuraya, Tokoh Elit Politik Indonesia di Eropa

18. Prof. Masri Singarimbun, Pendiri KB

19. Prof. AT. Barus, Ahli nuklir pertama Indonesia

20. Thomas Sitepu, Singa Podium 66 (Menurut isu yang beredar salah satu calon ketua Golkar)

21. Sutradara Ginting, Tokoh Politik Indonesia

22. Malem Sambat Kaban, Menteri Pertanian, Ketua PBB

23. Tifatul Sembiring, Menteri Infokom, Ketua PKS

24. Pada Pemilu 2009, dari sekian partai yang ada, tiga partai Ketuanya anak Karo (PKS, PBB dan Partai Katolik) dan 1 Sekjennya anak Karo (PDIP)

25. Dunia olahraga, Pecatur top Indonesia banyak anak Karo (Cerdas Barus, Nasib Ginting, Monang Sinulingga, Merlep Purba, Maksum Firdaus Sembiring, Tuti Rahayu Sinuhaji dan lainnya) tapi sekarang Cina Keturunan mengalahkan anak Karo (tidak ada peningkatan, biarpun catur adalah pelajaran wajib tapi sekolah catur telah mengalahkan kedai kopi Karo)

26. Dunia seni dan sastra juga disukai anak Karo (Djaga Depari, Amir Hamzah Peranginangin, Ita Sembiring, Advent Bangun, El Manik, Ramona Purba, Tio Fanta Pinem, Joey Bangun dan lainnya)

27. Pengusaha Pertanian Indonesia (Drom Bangun, Kena Ukur Surbakti dan lainnya)

28. Pengusaha Transportasi (Bus Besar) di Medan, Lampung, Jakarta dan Bandung (Lorena dan Karina bus, Karona bus, Priangan bus, Medan Jaya bus dan lainnya bus sedang di Jakarta dan bus besar Jakarta – Bandung)

29. Dan lainnya.